kejujuran itu kadang menyakitkan

kejujuran itu kadang menyakitkan, sama halnya dengan kritik, saran atau masukan dari orang lain tentang diri kita atau apa yang kita lakukan juga kadang menyakitkan, tapi paling tidak itu adalah wujud kepedulian mereka kepada kita, jika mereka tidak peduli lagi kepada kita, maka apapun yang kita lakukan atau yang ada pada diri kita bukan lagi sesuatu yang cukup penting buat mereka hingga mereka mau menegur kita. jadi saat kita menerima masukan atau teguran dari orang lain, ingatlah bahwa mereka peduli kepada kita.

obat memang pahit tapi harus kita telan dengan harapan bahwa kesembuhan akan segera datang kepada kita, sama seperti dengan kisah hidup kita. kadang kisah hidup kita terasa begitu pahit, bahkan terlalu pahit untuk ditelan, bahkan sampai membuat kita tidak lagi tertarik untuk makan atau minum karena pahit yang kita rasakan sudah sampai di tenggorokan. bahkan sampai membuat kita tidak bisa tidur karena pahitnya terus memenuhi pikiran dan otak kita, sehingga saat kita memejamkan mata justru pahitnya akan lebih terasa lagi.

ya tapi tetap saja, suka atau tidak suka, rela atau tidak rela, mau atau tidak mau kadang kita harus menelan obat itu dan berusaha menikmati pahitnya sebagai pengingat pada saatnya nanti kita akan bersyukur saat merasakan manisnya madu. sama ketika aku berusaha untuk memendam semua itu sendiri, pahitnya begitu menyesakkan dada, membuatku tak bisa lagi ber-logika, membuat semua serasa hampa tak berasa, membuat aku merasa bahwa aku sudah ‘gila’ karenanya.

tapi aku bersyukur akhirnya aku bisa mengatakannya kepadamu, maaf jika itu menyakitimu, maaf jika itu jadi satu beban untukmu, aku tidak ingin membuatmu bersedih, aku tidak ingin membuatmu menangis lagi, meski aku tahu bahwa mungkin sudah tidak ada tangis itu lagi karenaku dan tidak ada sedih itu lagi untukku, karena kebahagianmu sekarang. dan aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku bahagia untukmu, untuk hidupmu. indeed.
justru aku berusaha mengatakan semua itu sekarang agar di kemudian hari tidak akan ada lagi yang akan kamu dengar dari aku, tentang semua itu lagi. kamu hanya akan mendengar kebahagiaanku, tapi bukan deritaku, kamu akan mendengar tawaku tapi bukan tangisku, kamu akan melihat senyumku dan bukan murungku. seperti saat aku hanya mendengar kebahagiaanmu dan bukan deritamu, aku mendengar tawamu dan bukan tangismu dan aku melihat senyummu dan bukan murungmu.

dan sekarang, semua itu sudah terucap, sudah tersampaikan, aku sudah puas menangis, aku sudah puas mengenangmu, aku sudah puas memandangi ratusan photomu, dan mudah-mudahan aku bisa menyimpan semua itu dengan baik kembali, menata kembali semua itu agar aku hanya sering melihat senyummu daripada murungmu, melihat tawamu daripada tangismu.
maaf jika sudah membuatmu khawatir, maaf jika telah membuatmu merasa bersalah, ini semua salahku dan bukan salahmu, ini semua masalahku dan bukan masalahmu. jika saja ada yang bisa membuat semuanya baik-baik saja, maka itu aku dan bukan kamu. aku mungkin sangat bersedih, aku mungkin sangat hancur tapi mudah-mudahan aku masih bisa berbangga bahwa aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku, aku menyayangimu lebih dari aku menyayangi diriku sendiri dan mudah-mudahan kamu bisa merasakan dan mengetahui itu, sehingga kamu bisa mengerti apa dan bagaimana rasanya menjadi aku, sehingga kamu bisa mengerti kenapa aku kembali menangis karenamu. aku senang pernah menjadi bagian dari hidupmu, mudah-mudahan itu salah satu bagian yang tak akan pernah kamu lupakan. dan aku ingin kamu tahu bahwa kamu pernah dan akan selalu menjadi bagian dari hidupku, yang tidak akan pernah aku lupakan.

aku berterima kasih atas kejujuranmu, aku berterima kasih atas setiap kata jawaban dari telpku, aku bisa merasakanmu dari suara dan kata-katamu sebagaimana aku selalu bisa merasakanmu dari suara dan kata-katamu dulu. terima kasih telah berusaha untuk tetap menjadi ‘yang masih sama’, meski yang aku rasakan benar-benar berbeda, tapi terima kasih telah berusaha.

selanjutnya, mudah-mudahan kamu masih mau membagi kebahagiaanmu kepadaku, seperti halnya aku akan berusaha membagi kebahagiaanku kepadamu. mudah-mudahan kamu masih mau menemaniku semampumu dan tidak menjadikan itu sebagai beban untukmu. mudah-mudahan kita masih bisa ‘berbagi’ lagi.

kejujuran mungkin menyakitkan, tapi aku memilih untuk mendapatkan jawaban jujur yang menyakitkan daripada mendapat jawaban menyenangkan tapi tidak jujur.

IMG00342-20130108-2357

aku tahu bahwa aku tidak akan pernah bisa pulang lagi kesana, tapi aku bangga pernah ada di sana.

#YAMS

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s