no more …

banyak hal yang terjadi dalam hidup saya, terasa mulai berubah saat saya menikah, sebenarnya bahkan sebelum itu pun sudah mulai terasa. Ada yang salah dengan saya, ada yang salah dengan pribadi saya. Semakin terasa saat kedua orang tua saya mulai menegur, dan adik-adik saya mulai merasa bahwa mereka kehilangan sosok kakak mereka yang dulu, kakak mereka yang sederhana, yang apaadanya. Mungkin saya terlambat untuk bisa menyadarinya, sehingga semua sudah terlanjur begitu hancurnya saat saya baru sadar. Yang saya tidak pernah duga sama sekali adalah bahwa saat saya benar-benar dalam kondisi terjatuh sejatuh-jatuhnya, mereka (orang tua dan adik-adik saya) lah yang tetap berdiri di sana. Bahkan pada saat saya mengambil keputusan itu, mereka bilang ‘Selamat Datang di Rumah mas’, ‘Mas ku yang dulu sudah kembali’ tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan betapa malu sekaligus gembira nya saya saat itu. Dan mulai saat itu saya berjanji untuk kembali kepada keluarga saya, saya akan mengabdikan sisa hidup saya untuk keluarga. itu saja.
Tapi ternyata saya tidak sekuat itu, saya tidak setangguh itu. Saya kehilangan kendali lagi dan mudah-mudahan itu menjadi kesalahan saya yang bisa membuat saya benar-benar tersadar untuk bisa menjadi orang yang lebih baik lagi di kemudian hari.
Dan sekarang, saya sendiri yang harus bisa membuat diri saya menjadi orang yang lebih baik lagi, untuk keluarga dan anak-anak saya. Sebenarnya saya masih berharap bahwa saya masih bisa memiliki teman berbagi, tapi sepertinya itu bukan atau belum menjadi rejeki saya.
Seseorang selalu mengingatkan saya bahwa saya harus melihat dari sisi yang paling terang dari semua cobaan dan ujian, pelan-pelan saya mulai bisa merasakan bahwa memang itu yang seharusnya saya lakukan dari dulu. Bukan terus menerus ketakutan bahwa suatu saat nanti saya akan selamanya sendirian, ketakutan bahwa saya tidak bisa bangkit lagi.
Ada dua hal yang dapat saya lakukan saat saya merasa kecewa dan sedih, saya akan buat kesedihan dan kekecewaan itu sebagai cambuk yang menyemangati saya untuk tetap bangkit atau saya akan gunakan kesedihan dan kekecewaan itu sebagai alasan dan kambing hitam saat saya nanti tidak bisa bangkit lagi. Dan saya memilih yang pertama, seandainya saja anda tahu bahwa begitu sakitnya saat saya menyadari bahwa anda yang sekarang bukan lagi anda yang dulu saya kenal, ya ! saya tahu bahwa banyak hal berubah dan semua orang berubah, termasuk situasi dan kondisi anda, tapi saya hanya ingin anda tahu satu hal bahwa saya masih menyimpan anda yang saya kenal dulu, dan berharap mudah-mudahan suatu saat nanti, saya bisa menemui lagi anda yang dulu saya kenal sebagai saya yang dulu anda kenal juga.

no more …
saya tidak akan bersedih lagi, saya tidak akan berlari lagi … saya akan jalani semua selangkah demi selangkah demi keluarga dan anak-anak saya.

buat anda, mudah-mudahan anda bisa mengerti apa yang coba saya sampaikan🙂

Tuhan, sekali lagi tolong jangan biarkan hamba jauh dariMU.

amin.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s