the red mug, the old red mug …

mug merah itu menjadi begitu berarti bukan karena nilainya, tapi lebih karena ada sejarah di balik mug merah tua itu. Mug itu sekarang masih ada, dan masih dipakai meski pegangannya sudah tidak ada lagi. Mug merah itu selalu mengingatkan saya tentang seseorang, yang sangat berperan dalam kehidupan saya meski tanpa dia sadari atau bahkan tanpa dia ketahui.
Mug merah itu pemberian dari seseorang, yang dulu pernah menjadi teman, sahabat, saudara, kakak bahkan buat saya menjadi ‘someone special’, yang ‘dulu pernah’ menjadi teman, sahabat, saudara, kakak bahkan untuk saya, dia adalah ‘someone special’. Dulu pernah karena sekarang entah apa itu masih berlaku atau tidak, terlalu banyak sikap dan keputusan saya yang membuatnya kecewa, bahkan di saat-saat terakhir kemarahannya memuncak, she said that she lost me, totally. Ya, saya sadar betul semua itu karena kesalahan saya sendiri, jadi saya bisa menerima itu.
Beberapa hal yang spesial dari mug itu adalah surat yang menyertainya, berlembar-lembar, ditulis dengan tangannya sendiri. Salah satu kalimat yang sampai sekarang masih saya ingat adalah, “Jika suatu saat jalan Tuhan membawa kita kembali sama-sama, maka aku tidak akan menolaknya’, buat saya itu dahsyat … dalem, tapi jalan Tuhan tidak pernah membawa kami untuk bisa sama-sama. Saya yakin semua itu ada maksud dan tujuannya, Tuhan punya rencanaNya sendiri untuk kami. kalimat lainnya adalah ‘akan selalu ada tempat di hatiku untuk kamu, sebagaimana akan selalu ada tempat untuk mug ini di rumahmu’, saya banyak belajar dari dia, dan buat saya kalimat itu adalah magic words, yang setiap saat saya mengingatnya, setiap saat itu pula saya merasa bersemangat kembali, entah untuk apa dan kenapa tapi itulah adanya.
Begitulah, the old red mug menjadi sangat spesial karena ada sejarah yang menyertainya. sampai saat ini saya masih terus belajar, meski dalam kecepatan yang sangat berbeda dengan dia, seringkali saya yang masih tidak bisa konsisten, tidak bisa tegas terhadap diri saya sendiri, sehingga masih sering membuatnya kecewa dan semakin kecewa lagi mungkin. Iya, saya bisa mengerti itu. Selalu melihat dari sisi yang paling terang, berkali-kali dia mengatakan itu kepada saya dan itu juga yang saya lakukan sekarang. Yang paling mengenal diri kita bukanlah orang lain, tapi diri kita sendiri. orang lain menilai kita berdasarkan apa yang mereka ketahui tentang apa yang kita katakan, lakukan, dan yang mereka lihat, setelahnya ditambah dengan opini mereka, pola pikir, mood dan masih banyak faktor lainnya. Jadi lihat dari sisi yang paling terang bahwa saat seseorang menilai kita, itu tandanya mereka peduli kepada kita, itu yang harus kita syukuri. tapi saat tidak ada orang yang menilai kita lagi, justru mungkin pada saat itu kita harus khawatir karena sudah tidak ada lagi orang yang peduli kepada kita.
Buat seseorang yang telah memberikan the old red mug, terima kasih atas semuanya, maaf jika saya tidak seperti yang Anda harapkan. Saya hanya ingin Anda tahu bahwa saya sudah dan selalu berusaha, dengan apa yang saya miliki dan saya bisa, bukan untuk menunjukkannya kepada Anda karena mungkin Anda juga sudah tidak peduli lagi, tapi untuk diri saya sendiri, keluarga dan anak-anak saya serta untuk orang-orang yang saya cintai.

The old red mug menjadi sangat berarti karena selalu mengingatkan saya untuk selalu belajar, berbenah diri, tidak kehilangan harapan dan jadi diri sendiri. Sekali lagi, terima kasih atas ‘the old red mug’ yang luar biasa.

– almatin –

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s