Trauma

Setiap orang pasti pernah merasakan trauma, entah karena suatu kajadian yang tidak mengenakkan, atau karena pemikiran yang terlalu paranoid, tapi semua pasti pernah mengalami trauma. Dan sekarang, saya ingin bercerita tentang trauma yang saya alami dan saya rasakan, ini kisah trauma saya, tidak ada hubungan dengan trauma orang lain sama sekali.
Trauma saya pertama adalah dengan jarum suntik, dulu waktu saya masih berada di bangku Sekolah Menengah Pertama, saya pernah sakit panas, entah kenapa dan pada saat itu solusi yang terbaik dari orang tua saya adalah membawa saya ke dokter di dekat kantor kecamatan di daerah tempat tinggal saya, dan setelah diperiksa oleh dokter maka saya pun di suntik. Sepulang dari dokter dan beristirahat, ketika bangun tidur saya merasakan bahwa cara berjalan saya tidak normal, pincang di kaki yang ‘maaf’ pantatnya tadi disuntik, dan itu berlangsung hingga keesokan harinya. Kejadian itu membawa trauma tersendiri untuk saya sampai sekarang.
Trauma saya yang kedua adalah dengan ulat jambu, mungkin Anda pernah tau bentuk dari ulat jambu kan? iya, Anda benar. bentuk ulat jambu itu coklat, bulunya banyak alias gondrong itu yang membuat saya geli minta ampun, dulu waktu saya masih duduk di sekolah dasar, saya pernah memanjat pohon jambu milik embah saya yang kebetulan berbuah lebat, tanpa sadar bahwa di jambu itu banyak sekali ulat jambunya, saat ada seekor ulat yang jatuh menempel di tangan saya, saya langsung kaget bukan kepalang kemudian setelah itu baru saya perhatikan dengan seksama ternyata di pohon itu hampir di setiap dahan ada ulat bulunya, hiiiiiiiiiiiiiiiiiii ….. itu merupakan trauma tersendiri untuk saya sampai sekarang.
Trauma saya yang ketiga adalah sesak nafas. Ya, sama memiliki riwayat sakit athsma, entah dari mana padahal kedua orang tua saya sama sekali tidak memiliki riwayat sakit tersebut. Sesak nafas tersebut hadir biasanya dengan beberapa sebab antara lain : debu, dingin dan kecapekan. Jika salah satu dari ketiga hal tersebut hadir, sudah tanpa perlu dikomando lagi maka sesak nafas itupun datang dengan mudahnya. Jika sesak nafas itu sudah sampai terlanjur parah, maka nafas saya hanya bisa sepenggal demi sepenggal, itupun dengan tenaga yang ekstra, jadi setelah sesak nafas itu sembuh, sering badan dan dada rasanya pegel semua, sakit semua. Dan saat sesak nafas itu sudah parah, tidurpun saya harus dalam posisi duduk, tidak bisa tidur dengan posisi terlentang. Sesak nafas merupakan trauma saya yg besar.
Trauma saya berikutnya adalah ruang sempit, entah kenapa saya menjadi begitu panik ketika berada di ruang sempit dan gelap, seperti kamar mandi saat lampunya mati. saya tidak bisa menjelaskan banyak tentang hal itu karena saya sendiri tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan rasa panik itu dengan kata-kata.
Trauma saya berikutnya adalah listrik, saat saya masih menuntut ilmu di Sekolah Menengah Kejuruan, kebetulan saya mengambil jurusan elektronika dan komunikasi. Saat itu ada program PKL (Praktek Kerja Lapangan) dimana saya melaksanakannya di salah satu bengkel elektronika di dekat rumah saya, saat itu saya sedang belajar memperbaiki televisi hitam putih 14 inch, entah karena teledor atau kecapekan, pada saat membuka cup penutup layar televisi tersebut saya lupa untuk menghubung singkatkan arus yg masih tersimpan di tabung layar ke ground lebih dahulu, dan hasilnya tangan saya tersengat listrik dari tabung layar tersebut hingga tidak bisa bergerak untuk beberapa saat lamanya, dan itu membuat saya trauma terhadap listrik dan reparasi televisi.
Trauma saya berikutnya adalah berhutang, saya sudah pernah jatuh karena tidak bisa mengontrol perputaran uang dengan baik, sehingga saya mengalami keterpurukan berkepanjangan. dan itu membuat saya trauma untuk berhutang.
Trauma saya yang terakhir saya adalah wanita, saya selalu saja tidak bisa mengerti wanita dengan baik, selalu saja salah menafsirkan maksud dan makna dari kata-kata maupaun sikap wanita. oleh karena itu saya berusaha untuk bisa lebih memahami wanita dengan lebih banyak mengalah, menggunakan kata hati, berharap apa yang saya sampaikan melalui kata-kata dan perbuatan saya bisa menyentuh ke hati wanita. tapi itu bukan satu hal yang mudah untuk saya, entahlah. Yang pasti sampai saat ini saya masih saja trauma dan minder terhadap wanita. entahlah …. #damn !

masih banyak lagi trauma yang terkadang saya rasakan yang belum saya ceritakan di sini, mudah2an Anda suak dan bermanfaat untuk Anda entah bagaimana caranya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s