Sekali salah akan tetap dianggap salah …

itu sepenggal lirik lagu dari penyanyi terkenal Indonesia, Ebiet G Ade. Tapi jika kita lihat di kehidupan nyata sebenarnya memang begitulah adanya, kenapa saya bilang seperti itu? karena saya mengalaminya, bukan hanya sekali tapi beberapa kali. kali ini saya ingin menulis tentang hal itu di sini.

Pernah punya tetangga, teman atau orang yang Anda kenal mencuri? atau mungkin akan lebih gampang seperti ini. Ada seorang pencuri, saat melakukan aksinya kemudian dia dipergoki oleh warga, kemudian ditangkap, masih mujur jika pencuri tersebut tidak dihakimi massa atau bahkan dibakar hidup-hidup oleh massa ( begitulah ‘budaya’ di sekitar kita ). Setelah ditangkap, kemudian si pencuri dibawa ke kantor polisi dan singkat kata, dia dihukum untuk beberapa lama di penjara. mungkin itu bukan bagian terberat dari kisah si pencuri karena bagian terberat justru datang setelah dia selesai menjalani hukumannya dan keluar dari penjara.

Setelah keluar dari penjara, seharusnya si pencuri sudah bisa mendapatkan kehidupannya yang normal kembali, karena dia sudah membayar harga nya kan? dia sudah menerima hukuman dan sudah dijalani juga? tapi apa semudah itu? TIDAK, tidak semudah itu. meskipun dia sudah menjalani hukumannya tapi dia masih harus menjalani hukuman yang mungkin akan dia jalanin seumur hidup, yaitu menyandang gelar sebagai pencuri.

Menjalani hidup sebagai orang yang di cap sebagai pesakitan itu tidak mudah, saya tahu karena saya pernah berada di posisi itu, bukan sebagai pencuri, hanya pernah melakukan kesalahan kepada seseorang dan sampai saat ini kesalahan itu masih di cap kan kepada saya mungkin. Itu saja sudah cukup membuat saya tidak nyaman, apalagi kalo saya harus menjalani hidup sebagai pencuri, saya sendiri tidak bisa membayangkan gimana rasanya. pasti sangat berat.

mungkin ada di antara kita yang sudah pernah mengalami hal yang sama, sempat melakukan kesalahan dan bahkan setelah hukumannya anda jalanin, anda masih di cap sebagai pesakitan. saat ada kejadian yang ada hubungannya dengan kesalahan anda atau bahkan tidak ada hubungannya sama sekalipun, anda akan tetap menjadi TERSANGKA! tidak adil? tidak usah membahas adil atau tidaknya, karena anda mungkin memang tidak berhak untuk mendapat keadilan itu. jadi tidak usah protes !

saya tidak tahu apakah itu manusiawi atau memang ‘budaya’ kita seperti itu adanya, tapi yang jelas saya mengalami itu bukan satu kali, jadi mungkin saya boleh mengasumsikan bahwa memang begitu adanya dan saya juga tidak akan protes. mungkin untuk pertama kali saya masih protes dan membela diri mati-matian tapi sekarang, mungkin akan lebih baik jika saya diam dan menyerahkan pembenaran yang datang dari Yang Maha Benar, kalau memang saya yang salah, pasti juga akan ditunjukkan, dan kalau memang saya tidak bersalah, mudah-mudahan mereka bisa melihat itu.
Pembenaran tidak datang dari manusia, pembenaran datang dari Tuhan, pada saat yang tepat, di tempat yang tepat dan dengan orang yang tepat.

paling tidak dari situ saya belajar bahwa saya harus bisa lebih menghargai orang lain dan menilai orang lai tidak semata-mata dari masa lalunya, atau kesalahan yang pernah mereka buat, tapi dari apa yang ada pada diri mereka sekarang. setiap orang memiliki masa lalu mereka sendiri, dan tidak ada yang mau andai saja ditawarkan untuk memiliki masa lalu yang buruk. tidak ada yang bisa merubah masa lalu kita, tapi paling tidak kita bisa belajar dari masa lalu tersebut. ya kan ?

jadi, sekali salah akan tetap dianggap salah? …. ga usah protess !!!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s