Saat aku diam, aku menulis

Entah sejak kapan aku jadi suka menulis, dan entah sejak kapan aku jadi lebih suka meluapkan emosi dan amarahku lewat tulisan, bukan dengan kata-kata kasar, atau dengan hujatan atau makian. tapi entah sejak kapan juga itu bakal membuat aku terkesan lebay atau sok mellow … hahaha whatever … karena saat aku diam, aku menulis. paling tidak itu bisa membuatku merasa lebih baik, bahkan jauh lebih baik. seperti amarah yang bisa terledakkan dengan sempurna.

Bagiku, menulis sudah menjadi seperti berkata-kata, saat kata-kata tak lagi bisa terucap entah karena apa, tulisanku akan tetap mengalir seperti air meski tanpa suara, tanpa nada. tapi dari tulisan-tulisan itu justru aku masih bisa merasa lega, merasa tak lagi dahaga. saat marah, saat kesal, saat kecewa ataupun saat bahagia dan aku tak lagi berkata-kata, dan saat aku diam, aku menulis.

Mungkin sejak mengenalmu aku mulai menulis, menulis yang tak bisa aku ucapkan langsung kepadamu, menulis saat aku tak lagi bisa bersamamu, menulis saat tak ada yang bisa aku lakukan selain mengingat dan mengenangmu, juga mengenang semua yang pernah kita miliki. dan saat aku diam, aku menulis.

Tapi, meski sekarang tak pernah lagi ada kamu, bahkan tak pernah lagi terlintas bayangmu dibenakku selain dalam doa yang kadang aku sebut namamu di dalamnya, selebihnya aku bahagia untukmu dan itu cukup untukku, tapi saat aku diam, aku tetap menulis dan sampai sekarang, aku tetap menulis. juga seperti saat ini, aku masih menulis … tentangmu.

Tak ada maksud untuk mengungkit semua yang telah berhasil aku simpan rapih jauh di dalam sana, tapi saat diam dan aku menulis, terkadang satu per satu kenangan itu mengintip pelan dan perlahan. entah apa maksudnya, ya sudah … aku sapa sekalian🙂. tapi setelahnya, aku selalu bisa membujuk mereka untuk kembali ke tempatnya, dan berdiam di sana dengan damai. dan aku kembali menulis.

Dalam tulisanku, ada emosi, ada protes, ada amarah, ada tangis dan ada tawa di sana, dan saat ada yang bisa mengerti itu … maka dia juga pasti bisa mengerti aku, kalaupun tidak ada … paling tidak, tulisan-tulisan itu bisa mengerti aku. mereka tak pernah pergi, mereka tak pernah berhenti … mengalir begitu saja saat aku ingin menumpahkan semuanya. mereka yang menuntunku untuk bisa merasa lebih baik, merasa lega dan merasa kembali ke dunia nyata.

Aku bukan penulis yang baik, tapi saat diam, aku menulis. Dan saat aku menulis, itu adalah pengganti kata-kataku yang tak sempat keluar, dan tak apa … aku cukup lega dengan semua itu dan biarlah aku selalu ditemani mereka, tulisan-tulisanku … entah itu tentang aku, kamu atau mereka.

Tulisanku tak pernah membuatku kecewa, yang mengalir keluar juga tak pernah coba aku hapus karena itu hanya akan sia-sia belaka. biarlah mereka menjadi saksi bahwa aku pernah menulis ini, aku pernah berkata-kata seperti ini dan aku pernah merasa lega karena mereka seperti sekarang ini.

dan saat aku diam, aku menulis.

#me #you #us