Ayah berangkat kerja dulu ya nak

Tak pernah terfikirkan jika moment-moment itu bisa menjadi terasa begitu dalam. Entahlah, tak seperti biasanya bahwa berpamitan untuk berangkat bekerja menjadi begitu beratnya.

Kurang lebih sudah sebulan lamanya Sis berada di rumah, menikmati masa libur kerjanya menjelang hari raya Idul Fitri. Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap menjelang lebaran maka dia mendapatkan libur yang sangat panjang jika dibandingkan dengan karyawan atau pegawai yang hanya mendapatkan libur beberapa hari dan cuti bersama. Kesempatan itu pun digunakan untuk semaksimal mungkin memberikan perhatian dan menemani anak-anaknya yang sudah menahan rindu sekian lama.

Banyak hal yang bisa dilakukan bersama saat berada bersama anak-anak di rumah, mulai dari memandikan, menyuapi, mengantar sekolah, menjemput pulang sekolah, bermain, belajar, makan bersama dan lain sebagainya. Sungguh itu menjadi saat-saat yang paling membahagiakan untuk Sis karena hampir beberapa tahun ini dia hanya bisa bertemu dengan anaknya beberapa beberapa hari setiap bulannya.

Sis bisa merasakan betapa anak-anaknya merindukannya, sebagaimana dia juga merindukan mereka setiap harinya. Sungguh malah harga yang harus dibayar saat harus bekerja jauh dari keluarga. Kebersamaan, kehangatan keluarga menjadi sesuatu yang teramat sangat mahal bagi beberapa orang. ya, memang seperti itu adanya.

Dan, singkat cerita … saat itupun tiba, saat dimana Sis harus berpamitan untuk bekerja lagi kepada anak-anaknya. Si bungsu, Zildan yang baru berusia 4 tahun belum begitu merasakan efeknya selama apa yang dia inginkan, mainan-mainan itu bisa dia mainkan dan dia dapatkan. tapi si Sulung, Zuhdi yang sudah berusia 7 tahun mulai bisa mengerti dan merasakan betapa kehadiran Ayahnya begitu berarti untuknya.

Tak ada yang salah di menit-menit terakhir itu, mereka masih saja terlihat biasa saat Sis sudah selesai membereskan koper dan tas kerja nya yang akan dia bawa ke Jakarta dengan kereta Argo Lawu malam itu. Meski Sis tahu benar bahwa ini akan menjadi saat-saat yang tidak biasa untuk Zuhdi. Dan benar saja, saat harus berpamitan dengan Zuhdi, awalnya memang terlihat betapa dia ingin bisa menjadi tegar saat melepas ayahnya berangkat bekerja kembali. Tapi akhirnya dia tak kuasa juga membendung kesedihannya. Perlahan melangkah ke dalam kamarnya dan mengambil guling kemudian memeluknya erat menjadi pilihannya.

Sis tahu bahwa ada yang harus dia selesaikan terlebih dahulu sebelum berangkat bekerja supaya dia tidak memiliki beban pikiran tentang anak-anaknya saat dia bekerja nanti. Diletakkannya tas dan dilepasnya jaket hitam yang sudah dia kenakan lalu Sis menyusul anaknya ke dalam kamar. Dia mendapati zuhdi sedang berdiri dengan memeluk guling dan menangis tersedu, namun dengan suara tangisan yang lirih dan air mata yang begitu deras membasahi kedua pipinya.

Itu adalah moment paling menyakitkan untuk Sis, saat dia harus melihat anaknya menangis. Oh Tuhan, kenapa harus seperti ini. Teriak Sis dalam hati. Kemudian dia berlutut di depan Zuhdi dan perlahan mengambil guling yang sedang dipeluk oleh anaknya itu dan meletakkanya di atas kasur. Lalu Sis memeluk erat anaknya yang semakin membuat Zuhdi menangis sejadi-jadinya meski tetap dalam suara tangis yang pelan.

Tak kuasa dengan semua itu, Sis kemudian menggendong anaknya yang sekarang sudah lebih dari 31 kilogram itu dengan sedikit bersusah payah dan berhasil. Dibiarkannya anaknya itu menyelesaikan tangisnya di gendongannya, tak banyak yang Sis lakukan selain mengusap punggung anaknya dengan harapan itu bisa menenangkannya dari tangisnya.

‘Nak, Ayah bekerja hanya sebentar, nanti juga akan pulang lagi. Ayah bekerja supaya nanti Mas Zuhdi bisa bersekolah, bisa membeli mainan, bisa membeli rumah dan sebagainya. Mas Zuhdi ga boleh sedih, Mas Zuhdi belajar di rumah ya’ ucap sis pelan kepada anaknya. Tak ada jawaban dari anaknya kecuali anggukan pelan sembari masih terisak dan kemudian terbatuk-batuk karena menangis.

Suasana menjadi hening sejenak, Papah, Mamah sis hanya bisa memandang semua itu dari luar kamar. Mereka pasti juga bisa mengerti sekali apa yang sedang dirasakan oleh cucunya itu. Oleh sebab itu mereka membiarkan anaknya yang menenangkan cucunya.

Nafas mas Zuhdi perlahan-lahan mulai teratur, tandanya dia sudah tak lagi terisak menangis. Air matanya pun sudah tak lagi keluar, hanya sisa-sisa air matanya yang masih menempel di pipi yang kemudian dia usap sendiri sebelum dia berkata kepada ayahnya, ‘sudah yah, mas mau turun’.

Diturunkannya perlahan mas Zuhdi, kemudian Sis kembali berlutut di hadapan anaknya dan berpamitan untuk yang kedua kalinya. ‘Nak, ayah berangkat kerja dulu ya’. dan kali ini mas Zuhdi menjawab pelan, ‘Iya yah’.

Damn ! darah terasa mengalir begitu deras dari kepala Sis menuju ke bawah yang membuatnya merasa mendadak pening. Tapi disaat yang sama, dia merasa lega bahwa anaknya sudah bisa melepaskannya untuk berangkat bekerja sekarang dan itu berarti dia bisa berangkat bekerja tanpa harus merasa khawatir bahwa anak-anaknya akan bersedih saat mereka tidak bersama ayahnya untuk beberapa minggu ke depan.

Dengan dibonceng oleh Papah, Sis berangkat ke stasiun kereta api malam itu. Sepanjang perjalanan, tak banyak percakapan yang dilakukan hingga saat sudah sampai di stasiun. Papah menyakinkan Sis bahwa anak-anak akan baik-baik saja dan nanti saat sudah sampai di rumah, Papah akan mengabarkan keadaan anak-anak di rumah.

Setelah berpamitan, kemudian Sis mulai masuk ke stasiun, mengantri di bagian pemeriksaan dan akhirnya masuk ke dalam kereta. Diletakkannya koper di bawah tempat duduk dan tas di atas kursi dimana dia duduk lalu dia termenung.

10 menit kemudian, handphone Sis berdering dan nomor Papah yang tampil di layar handphone itu.
‘Assalamualaikum’, sapa Papah. ‘Waalaikum salam’ jawab Sis. ‘Pripun pah, lare-lare rak mboten rewel to?’ tanya Sis dengan nada khawatir. lalu Papah menjawab, ‘Ra popo, bocah-bocah wis do turu kabeh. Wis tenangno pikirmu trus nyambut gawe sing apik. Insya Alloh bocah-bocah ra popo’. Papah menjelaskan. ‘Gih pun Pah, nitip lare-lare gih. Assalamualaikum’ Sis berpamitan kepada Papah, ‘Waalaikum salam’ jawab Papah.

#me #singleDadHappy