What a day …

Yup, hari ini … senin 15 juni 2015. Bakal selamanya aku kenang jadi salah satu hari yang tak terlupakan. Hari dimana aku diajarkan banyak hal besar oleh Tuhan. Dan yup, Gusti ora nate sare.
Jadi, aku akan berbagi ceritaku hari ini pada kalian semua. Beberapa hari yang lalu, memang aku sudah punya rencana untuk pulang ke rumah, tiket kereta sudah di tangan. Tapi ada yg beda kali ini, aku biasa berangkat dari stasiun Bandung kota, kali ini aku berangkat dari stasiun Kiaracondong. Jika dilihat dari jarak kedua stasiun tersebut dari tempat kost, mungkin tak jauh berbeda, hanya beda arah saja.
Sengaja beli tiket hari senin karena pagi harinya aku masih harus ngantor dulu. Dan sekedar informasi, kantorku berada di daerah industri cibaligo, dekat cimahi atau bahkan mungkin sudah masuk ke cimahi, entahlah. Aku tak begitu tau soal itu. Sedangkan tempat kostku berada di daerah Dago, tepatnya sekitar lapangan Gasibu Bandung yang terkenal itu. Untuk bisa mencapai kantor, aku harus naek angkot 3 kali. Dan yup, jaraknya memang lumayan jauh.
Begitupun kembalinya dari kantor, aku biasanya masih bisa nebeng teman kantor tapi karena hari ini aku pulang awal, jam 3 sore aku sudah keluar dari kantor menuju kost an, untuk packing dan berangkat ke stasiun Kiaracondong sebelum jam 7 malam, karena jadwal keretaku adalah jam 7 malam.
Dari cibaligo, naek angkot ke cimindi. Sesampainya di cimindi dengan pede nya aku naik angkot sthall padalarang cimahi, karena ada sthall nya, aku pikir ini angkot yg ke Bandung kota, tapi ternyata saudara-saudara …. guess what?? Yup, aku salah naek angkot. *damn*. Semula itu yang terasa, karena jam sudah mulai menunjukkan pukul 4 sore, aku sudah mulai kepikiran bahwa bisa jadi aku bakal melewatkan keberangkatan keretaku nanti jam 7, karena kondisi jalan yang macetnya ga ketulungan.
Singkat cerita, angkot tersebut kembali ke cimindi, tempat di mana aku naik tadi, tapi sekarang sudah jam setengah 5, maka angkot yg ke bandung kota bia cimahi sudah pasti bukan solusi yang telat karena sudah hampir bisa dipastikan aku tidak akan bisa sampai di kostan tepat waktu, maka angkot cimindi pasteur lah alternatif yang paling logis dan yup, i take it.
Perjalanan angkot dari cimindi ke pasteur tak terlalu banyak kendala, macetnya masih bisa diterima logika. Sesampainya di pasteur sudah hampir jam 5, and guess what again?? Ga ada jalur angkot dari pasteur yang bisa langsung ke gasibu, harus naek 2 kali angkot lagi dan dengan memperkirakam kondisi jalan yg macet seperti tadi, well … angkot sepertinya bukan jalan keluar.
Jadi aku putuskan untuk coba menanyakan jasa ojeg, dan yup. 25 ribu dari pasteur ke gasibu. Secara di kantong hanya ada uang 38 ribu, dan aku masih harus ke stasiun dari kost an yang sepertinya tidak mungkin dengan angkot lagi ( ojeg satu-satunya harapanku ), maka uang itu rencananya aku alokasikan untuk bayar ojeg dari kostan ke stasiun saja.
Dan i have no choice, i have to walk. Yup, i said to myself that i have to walk from pasteur to gasibu. Jujur saja, ga yakin juga bakal bisa nyampe kost an tepat waktu, jam 6 an lah. Tapi, apapun itu paling tidak aku sudah mencoba, yup aku sudah berusaha berjalan. Bukan hanya diam dan menunggu angkot atau belas kasihan orang lain.
Dan saat aku sampai di tengah-tengah jembatan surapati, adzan maghrib sudah mulai terdengar bersahut-sahutan. Aku panik, dan sudah berkata kepada diri sendiri bahwa ‘i’m not ganna make it’. Tapi tetap dengan berjalan cepat, dan sekali lagi aku bilang pada diri sendiri, seandainya saja nanti sampai aku melewatkan keretaku, paling tidak aku sudah berusaha. Yup, aku sudah berusaha berjalan. Tidak diam saja.
Dan aku terus berjalan, tampak ada angkot yang berjalan ke arah gasibu, aku putuskan untuk naek tanpa melihat itu angkot jurusan mana, yang aku tau gasibu di depan sana dan kalau angkot itu berjalan kesana, itu cukup bagiku.
Setelah seratus meteran berjalan ternyata angkot itu mengambil jalur kanan yg berarti bersiap-siap untuk berbelok ke kanan di sebuah traffic light. Aku putuskan untuk turun setelah membayar 2 ribu untuk seratus meter naik angkot.
Aku kembali berjalan, melewati turunan dan perempatan dan bertemu dengan traffic light lagi, dan aku ga bisa menceritakan bagaimana bahagianya melihat angkot berwarna orange itu sedang berhenti di traffic light, itu adalah angkot yang biasa aku naiki saat berangkat kerja dan angkot itu lewat gasibu. Dengan segera aku naik dan dua ratus meter kemudian, aku sampai di gasibu dengan membayar kembali sebesar 2 ribu.
Sudah mulai tumbuh harapanku ketika aku melihat ke handphoneku jam menunjukkan pukul 5.58 sore, dan setelah berjalam 4 menit, aku sampai di kostan dengan peluh bercucuran.
Aku putuskan untuk ganti baju lalu sholat maghrib dulu, selesai sholat, aku berdoa. Ya Alloh, aku pengen pulang ke rumah. Aku sudah berusaha semampuku berjalan secepatnya, sekarang harapanku hanya belas kasihanmu.
Setelah sholat, aku kemasi barang-barang kemudian mulai keluar dari kost, saat hampir sampai di tepi jalan besar, ada tukang ojeg yg sedang ngetem di sana dan menawarkan jasa ojeg kepadaku.
Aku tanya, ke stasiun Kiaracondong berapa a’? Dijawab, 30 ribu. Lalu aku langsung bilang, deal. Kita berangkat, tapi kira-kira bisa nggak ya a’ sampai di sama dalam setengah jam? Dan dijawab, bisa a’, oleh tukang ojegnya.
Dan akhirnya aku berangkat ke stasiun dengan hati yang bahagia, sambil tetap sesekali memeriksa hape untuk melihat jam, dan alhamdulillah aku sampai di stasiun jam 6.40 menit. Setelah cetak tiket dan antri masuk, finally. I’m here … at stasiun Kiaracondong.🙂
Sama sekali tak terpikirkan olehku bahwa aku bakal bisa sampai stasiun ini tepat waktu, semua karena belas kasihan Alloh SWT. Dan aku hanya bisa berucap, alhamdulillah.
Yup, aku belajar hari ini. Aku belajar bahwa dalam setiap kesusahan, ada kemudahan seperti yang dijanjikan Tuhan kepada umatNya. Dan yg wajib aku lakukan ya itu, berusaha semampuku. Selebihnya Tuhan yang akan memudahkan.
Aku ditolong via pak Ojeg yg mengantarkan aku sampai ke stasiun. Mudah2an rejekinya barokah ya pak Ojeg.🙂
Dengan sisa uang 2 ribu di kantong, aku masih bisa membeli sebotol aqua kecil untuk bekal pulang di kereta nanti.
Alhamdulillah.

Mungkin cerita ini terdengar lebay buat sebagian kalian, tak apa. Aku yang mengalaminya dan itu luar biasa.
Atau mungkin cerita ini terdengar terlalu di dramatisir, ga papa juga karena kejadian sesungguhnya jauh lebih dramatis dari cerita ini.

So, mudah2an bermanfaat🙂

See you🙂