Siklus.

Istilahmu, untuk semua yang datang dan pergi dalam hidupmu. Datang karena ada tendensi atau karena ada maunya, pergi karena ternyata kemauannya tidak terpenuhi atau, datang karena sudah tak ada lagi pintu yang terbuka dan hanya pintumu, pergi karena merasa bahwa tak mendapatkan apa yang diharapkan di pintumu. begitukah ?

so, menurutmu setiap datangku kepadamu itu pasti punya tendensi tertentu ? semua yang kamu sebut atas nama perhatian itu juga karena aku punya tendensi tertentu? mungkin itu yang muncul di benakmu ketika setiap kali ada whatsapp, bbm dariku ? hmmm pasti ada maunya nih ? begitukah ?

aku mengagumimu sejak dulu, hampir semua tentangmu. cara berfikirmu, sudut pandangmu, semangatmu, cara bicaramu, spontanmu, spiritmu, ketangguhanmu dan selalu saja bisa membuatku kagum dengan caramu. sering terlintas di benakku, bahwa aku belum pernah bertemu dengan orang sesempurna dirimu. dan bodohnya aku, aku membuat kesalahan yang fatal. kesalahan yang mungkin termaafkan, tapi tak mungkin terlupakan olehmu.

aku sadari sepenuhnya itu, meski kisah itu sudah berakhir, dengan tak tahu malunya aku masih berani berharap akanmu, masih berusaha menyakinkan bahwa aku layak mendapat 1 kesempatan lagi untuk bisa membuktikan bahwa aku bisa menjadi yang lebih baik dari aku yang dulu pernah membuat kesalahan itu. untuk kesekian kalinya, ketika jawabanmu adalah TIDAK, aku selalu mengatakan pada diriku sendiri bahwa … i’ll try it again later. karena sampai detik ini, aku tidak bisa menemukan yang bisa membuatku merasa, bersemangat, memiliki harapan kembali seperti yang selalu bisa kamu hadirkan, entah kamu sadari atau tidak.

tapi ketika aku tahu bahwa kamu menganggap kehadiranku dan kepergianku adalah siklus, siklus yang datang saat ada maunya dan pergi setelah mauku terpenuhi atau kecewa karena mauku tak terpenuhi, masih sempat terpikir bahwa, come on. kamu tak mungkin sepicik itu. tapi entahlah, begitukah ?

kenapa kamu tak berusaha untuk berada di posisiku sejenak saja, kemudian melihat dari sudut pandangku, merasakan dari sisiku. supaya kamu bisa tahu bahwa sakit ketika apa yang kamu lakukan dianggap memiliki tendensi oleh orang yang kamu sayang. *damn*. tapi ya sudahlah, mungkin kamu terlalu sempurna untuk bisa merasakan itu.

aku tak bisa pergi jauh darimu, kamu tahu apa sebabnya. berkali-kali aku katakan itu padamu. tapi sekarang, aku pergi, bukan karenamu. tapi karena aku. aku ngeman awakku dhewe. mungkin memang benar bahwa aku tak akan pernah bisa dapatkan kesempatan itu. jadi, ya sudahlah. toh tak semua yang kita inginkan harus jadi kenyataaan juga.

gak papa, sumpah gak papa. aku cuma ingin menyampaikan bahwa tak semua yang aku lakukan atau datangku kepadamu itu punya tendensi. begitupun dengan pergiku. itu saja. but, ya monggo saja sih. aku gak bakal mengusahakan pembenaran apapun koq. mudah-mudahan suatu saat kamu bisa merasakan itu. bahwa prasangkamu yang menjadikanmu tak bisa merasakan perhatian orang lain. mungkin.

you are doing a great job !

thank you for the years, amazing years with you.