Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun. Mudah-mudahan para jamaah yang meninggal saat terjadi peristiwa tragedi MINA khusnul khotimah dan diterima di sisi Alloh SWT. amiin.
Tulisan ini tidak penting, hanya opini pribadi saya saat membaca beberapa posting di timeline facebook mengenai tragedi MINA, baik yang muncul dari halaman bersponsor maupun yang di share oleh teman facebook saya. Jadi, jangan terlalu dianggap serius tulisan ini.

Tulisan ini juga tidak ingin menyalahkan salah satu pihak atas terjadinya tragedi MINA, karena penulis pribadi tidak tahu dan belum pernah tahu dengan mata kepala sendiri tempat kejadian tragedi MINA tersebut (tapi mudah-mudahan suatu saat nanti bisa sampai juga di sana. In Sha Alloh). Sekali lagi, tulisan ini tidak bermaksud menyalahkan siapapun. meskipun saat ini paling gampang ya menyalahkan presiden saja, gak usah mikir banyak, malah gak usah pake otak. cuma pakai hati dan rasa benci saja sudah cukup. wekawekaweka.

Sekarang saatnya serius … *cieeee* Tragedi MINA, kalau nurut saya sih memang didukung oleh berbagai faktor. mulai dari kondisi, sarana, prasarana, cuaca, bahkan faktor jemaah itu sendiri. Saat berbagai faktor tersebut saling mendukung satu sama lain, maka terciptalah persepsi umum yang kemudian membuat sebagian jamaah memutuskan untuk melakukan ibadah lempar jumroh pada saat yang hampir bersamaan. Kemudian, itu membuat sarana dan prasarana yang ada menjadi tidak lagi memadai untuk bisa menampung dan mengakomodir jumlah jamaah yang melebihi kapasitas sarana dan prasarana. Setelah itu, maka spontan yang terjadi adalah “have no choice” atau tidak ada pilihan lagi selain melanjutkan ibadah meski dengan resiko yang tinggi.

Kalau faktor sarana prasarana masih bisa di kalkulasi lah ya, dengan luas sekian, daya tampung sekian, waktu yang dibutuhkan untuk melakukan ibadah rata-rata sekian menit per jamaah dan kemudian jumlah jamaah yang tahun tersebut melaksanakan ibadah haji, maka masih bisa dikalkulasi dan diatur bagaimana supaya sarana prasarana yang ada bisa tetap mengakomodir keperluan jamaah dan masih tetap aman. Entah dengan cara pembagian jadwal untuk kelompok jamaah, atau menerapkan buka tutup jalur seperti saat polisi mencoba mengurai kemacetan, dan lain-lain. Tentu saja dengan melihat trend jumlah jamaah haji yang dari tahun ke tahun selalu meningkat maka pertimbangan untuk memperluas, menambah dan meningkatkan kualitas sarana dan prasarana akan menjadi kebutuhan yang tak terhindarkan. Dan itu butuh proses tentu saja, gak bisa langsung semalem jadi.

Kalau faktor Alam, ini adalah faktor yang sebagian besar langsung berhubungan dengan kebijakan Alloh SWT. Kapan Alloh SWT menghendaki, ya kun faya kun. Tak akan ada yang bisa menghalangi. Termasuk faktor cuaca yang panas, mungkin ada hubungannya dengan pemanasan global tapi kalau dibahas bisa berbulan-bulan gak selesai-selesai nanti, dan lagi nanti ujung-ujung nya ya ke kita-kita lagi koq kenanya. Dengan habbit yang tidak terlalu memperdulikan lingkungan sekitar kita dan lain sebagainya. Khusus di Indonesia, bisa langsung menyalahkan presidennya. Mumpung sekarang lagi kekinian. haha.
Kalau faktor Manusia, …. beeeeuuuhh ini faktor yang paling complicated. Udah tau gimana rempongnya emak-emak ? itu salah satu contoh bahwa manusia itu makhluk paling compliacted. Dengan latar belakang pendidikan, budaya, keluarga, lingkungan dan lain sebagainya maka masing-masing kita menjadi individu yang unik. Memiliki pandangan dan persepsi masing-masing dalam berbagai hal.

Salah satu yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya peristiwa seperti tragedi MINA beberapa waktu yang lalu adalah dengan mengurangi jumlah jamaah haji yang akan melaksanakan ibadah haji ke tanah suci. DUAAAARRR langsung deh pecah …” tapi kan berhaji itu hak semua orang ( yang mampu secara fisik, mental dan finansialnya ), jadi apa hak pemerintah membatas-batasi, ini namanya pelanggaran HAM”, “kalau kloternya dibatasin trus kita harus ngantri berapa tahun lagi?”. Atau dengan cara pemfilteran calon jemaah haji dengan memprioritaskan jemaah haji yang belum pernah berhaji lebih dahulu. DUAAARRRR pecah lagi. “Gue berangkat haji pake duit-duit gue, Gue mau berhaji berapa kali ya terserah Gue, Orang Gue gak minta dibayarin sama pemerintah, ngapain pake ngelarang-ngelarang orang mau pergi haji? dasar pemerintah Kafir”. tuh kan, masing-masing kita akan memiliki persepsi dan pemikiran yang berbeda. dan itu wajar, jadi ya selow saja. monggo saja punya pemikiran yang berbeda, tapi selama tidak merugikan orang lain ya silahkan. Contohnya : ya kalau memang sudah pernah berhaji dan mau berhaji lagi tapi tidak jadi prioritas oleh pemerintah masih bisa berangkat haji sendiri dengan ONH Plus Plus misalnya. dan saat nanti di sana terjadi sesuatu, maka yang pertama kali dilakukan adalah nyalahin pemerintah karena tidak care sama warganya yang sedang berhaji ONH Plus Plus. phiewww … tepok jidat.

Jadi, harusnya gimana dong ? kalau nurut idealnya. ( ideal itu kondisi dimana jemaah itu semua punya pemikiran yang sama, mau saling mengerti, menghormati, tertib, ngantri ) maka pembagian pelaksanaan ibadah haji di lokasi-lokasi yang sekiranya memiliki kapasitas atau daya tampung terbatas bisa menjadi pilihan. misalnya, kalau terowongan MINA daya tampungnya seribu orang, maka sebelum masuk terowongan dibatasi dulu, kalau sudah sekitar seribu jemaah yang sudah masuk, pintu masuk ditutup dulu. setelah sekiranya cukup waktu untuk melakukan ibadah di MINA maka jamaah segera diminta untuk melanjutkan perjalanan dan mengosongkan lokasi supaya bisa digunakan untuk jemaah berikutnya. Tapi sekali lagi, ini yang diurusin jutaan orang, bahkan mungkin puluhan atau ratusan juta orang. gimana coba ? repot juga kan ?

Atau, dengan membatasi kedatangan jemaah haji dari masing-masing negara ya dengan cara itu tadi, memprioritaskan calon jemaah yang belum pernah berhaji sebelumnya di masing-masing negara. dengan resiko ya itu tadi, pemerintahnya bakal dimaki-maki sama jemaah yang merasa dilanggar haknya untuk berhaji kembali.

Mudah-mudahan bisa jadi pelajaran untuk kita semua. Alloh SWT mewajibkan kita berhaji hanya 1 kali seumur hidup juga pasti ada maksudnya, mungkin salah satunya adalah supaya yang pergi ke tanah suci bisa gantian dan bukan orang yang sama setiap tahunnya. Dan mudah-mudahan juga bisa jadi bahan evaluasi untuk semua pihak terkait. Sehingga pelaksanaan haji tahun-tahun berikutnya berlangsung lancar dan aman. In Sha Alloh.

sudah, itu saja.